SPBU

Stasiun Pengisian Bahan Bakar adalah tempat di mana kendaraan bermotor bisa memperoleh bahan bakar. Di Indonesia, Stasiun Pengisian Bahan Bakar dikenal dengan nama SPBU (singkatan dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Namun, masyarakat juga memiliki sebutan lagi bagi SPBU. Misalnya di kebanyakan daerah, SPBU disebut Pom Bensin yang adalah singkatan dari Pompa Bensin. Di beberapa daerah di Maluku, SPBU disebut Stasiun bensin.

Stasiun Pengisian Bahan Bakar, pada umunya menyediakan beberapa jenis bahan bakar. Misalnya:

Banyak Stasiun Pengisian Bahan Bakar yang juga menyediakan layanan tambahan. Misalnya, musholla, pompa angin, toilet dan lain sebaginya. Stasiun Pengisian Bahan Bakar modern, bisanya dilengkapi pula dengan minimarket dan ATM. Tak heran apabila Stasiun Bahan Bakar juga menjadi meeting point atau tempat istirahat. Bahkan, ada beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar, terutama di jalan tol atau jalan antar kota, memiliki kedai kopi seperti Starbucks, atau restoran fast food dalam berbagai merek.

Di beberapa negara, termasuk Indonesia, Stasiun Pengisian Bahan Bakar dijaga oleh petugas-petugas yang mengisikan bahan bakar kepada pelanggan. Pelanggan kemudian membayarkan biaya pengisian kepada petugas. Di negara-negara lainnya, misalnya di Amerika Serikat atauEropa, pompa-pompa bensin tidak dijaga oleh petugas; pelanggan mengisi bahan bakar sendiri dan kemudian membayarnya kepada petugas di sebuah loket/counter.

[sunting]Di Indonesia

Hingga pertengahan Oktober 2005, perusahaan pemerintah, Pertamina, merupakan satu-satunya perusahaan yang mendirikan SPBU di Indonesia. Pada Oktober 2005, Shell menjadi perusahaan swasta pertama yang membuka SPBU-nya di Indonesia, yang terletak di Lippo KarawaciTangerang. Shell menjual bahan bakar beroktan tinggi yang diimpor dari Singapura dan memasang harga yang kompetitif dengan harga milik Pertamina.

Mungkin untuk menghadapi kemungkinan datangnya pesaing, Pertamina akhir-akhir ini telah meremajakan stasiun-stasiunnya, misalnya dengan perubahan pada penampilan dan penambahan fasilitas. Selain itu, mereka kini lebih banyak membuka stasiun-stasiun milik mereka sendiri (bukan dengan sistem waralaba). Stasiun-stasiun tersebut umumnya lebih besar daripada stasiun-stasiun waralaba.

[sunting]Perusahaan-perusahaan yang mengoperasikan stasiun pengisian bahan bakar

SPBU Petronas di Malaysia.

Beberapa perusahaan yang mengoperasikan stasiun pengisian bahan bakar di dunia:

Sedangkan di Indonesia, SPBU dioperasikan oleh beberapa perusahaan, di antaranya: Beberapa perusahaan yang mengoperasikan stasiun pengisian bahan bakar di dunia:

Untuk bangunan SPBU, Pertamina membuat standar anatomi bangunan:

  1. Desain bangunan harus disesuaikan dengan karakter lingkungan sekitar (contoh: letak pintu masuk, pintu keluar, dan lain-lain);
  2. Elemen bangunan yang adaptif terhadap iklim dan lingkungan (sirip penangkal sinar matahari, jendela yang menjorok ke dalam, dan penggunaan material dan tekstur yang tepat);
  3. Desain bangunan SPBU harus sesuai dengan bangunan di lingkungan sekitar yang dominan;
  4. Arsitektur bangunan sarana pendukung harus terintegrasi dengan bangunan utama;
  5. Seluruh fasade bangunan harus mengekspresikan detail dan karakter arsitektur yang konsisten;
  6. Variasi bentuk dan garis atap yang menarik;
  7. Bangunan harus adaptif terhadap panas matahari dan pantulan sinar matahari dengan merancang sirip penangkal sinar matahari dan jalur pejalan kaki/ trotoar yang tertutup dengan atap;
  8. Bangunan dibagi-bagi menjadi komponen yang berskala lebih kecil untuk menghindari bentuk massa yang terlalu besar;

Panduan untuk kanopi adalah sebagai berikut:

  1. Integrasi antara kanopi tempat pompa bensin dan bangunan diperbolehkan;
  2. Ketinggian ambang kanopi dihitung dari titik terendah kanopi tidak lebih dari 13’9’’. Ketinggian keseluruhan kanopi tidak lebih dari 17’;
  3. Ceiling kanopi tidak harus menggunakan bahan yang bertekstur atau flat, tidak diperbolehkan menggunakan material yang mengkilat atau bisa memantulkan cahaya;
  4. Tak boleh menggunakan lampu tabung pada warna logo perusahaan.

Panduan untuk pump island:

  1. Pump island ini terdiri dari fuel dispenser, refuse container, alat pembayaran otomatis,bollard pengaman, dan peralatan lainnya;
  2. Desain pump island harus terintergrasi dengan struktur lainnya dalam lokasi, yaitu dengan menggunakan warna, material dan detail arsitektur yang harmonis
  3. Minimalisasi warna dari komponen-komponen pump island, termasuk dispenser, bollard dan lain-lain.

Sirkulasi/jalur masuk dan keluar:

  1. Jalan keluar masuk mudah untuk berbelok ke tempat pompa dan ke tempat antrian dekat pompa, mudah pula untuk berbelok pada saat keluar dari tempat pompa tanpa terhalang apa-apa dan jarak pandang yang baik bagi pengemudi pada saat kembali memasuki jalan raya;
  2. Pintu masuk dan keluar dari SPBU tak boleh saling bersilangan;
  3. Jumlah lajur masuk minimum dua lajur;
  4. Lajur keluar minimum tiga lajur atau sama dengan lajur pengisian BBM;
  5. Lebar pintu masuk dan keluar minimal 6 m.

Minyak Bumi

630tempo_pertamina_subekti

Pada 1980-an, ketika harga minyak dunia melambung tinggi lantaran perang antara Irak dan Iran, Indonesia mendapat rezeki nomplok alias windfall profit. Bagaimana tidak, waktu itu produksi minyak dalam negeri mencapai 1,7 juta barel per hari sementara kebutuhan hanya kurang dari satu juta barel.

Berkah minyak itu kemudian dipakai untuk membangun infrastruktur dan membiayai program bimbingan masyarakat pertanian, yang pada gilirannya membuat Indonesia mampu mencukupi kebutuhan beras dalam negeri sendiri.

Namun, sepertinya ada yang terlupa. Keuntungan minyak itu kurang banyak diinvestasikan dalam memperkuat upaya penggantian minyak bumi — dan energi fosil lainnya — yang sedari awal disadari bakal habis.

Akhirnya, ketergantungan terhadap minyak bumi pun jadi kian sulit diputus. Hingga tahun 2009, minyak bumi memegang andil hampir 50 persen dalam penyediaan energi primer nasional.

Ketergantungan yang tinggi itu belum diimbangi dengan peningkatan cadangan terbukti serta tingkat produksi. Dalam satu dekade terakhir, cadangan terbukti mengalami penurunan dari 5,1 miliar barel (2000) ke 4,3 miliar barel (2009), atau rata-rata 1,7 persen setahun.

Sedangkan tingkat produksi pada periode yang sama mengalami penurunan dari 1,45 juta barel per hari menjadi 0,95 juta barel per hari atau menurun rata-rata 3,8 persen per tahun.

Di sisi lain, konsumsi minyak bumi kita terus meningkat. Tak heran, sejak 2004 Indonesia sudah menjadi negara pengimpor minyak netto (net oil importer) karena kemampuan produksi dalam negeri tidak dapat mengimbangi pertumbuhan konsumsi.

Tahun 2009, konsumsi minyak bumi kita mencapai 1,34 juta barel per hari — lebih tinggi dari kemampuan produksi yang sebesar 0,95 juta barel per hari.

Lebih dari itu, keterbatasan produksi telah pula mendorong peningkatan impor minyak mentah dalam lima tahun terakhir dari 322 ribu barel per hari (2005) ke 334 ribu barel per hari (2009).

Dalam lima tahun terakhir, impor bahan bakar minyak juga masih tetap tinggi akibat terbatasnya kapasitas kilang. Kalau pada 2005 Indonesia mengimpor 451 ribu barel BBM per hari, pada 2009 jumlahnya mencapai 389 ribu barel per hari.

Karena subsidi bahan bakar ditanggung negara, maka beban APBN pun kian berat. Apalagi pada saat harga minyak melambung tinggi. Tak heran, wacana menaikkan harga BBM (dengan mengurangi subsidi) terus mengemuka.

Tetapi, tingginya ketergantungan terhadap BBM membuat penghapusan subsidi jadi tidak mudah, sebab tindakan ini bakal tidak populer. Tidak mengejutkan jika pemerintah beberapa kali menunda pengurangan subsidi.

Selain pengurangan subsidi secara bertahap, pemerintah juga perlu memerhatikan pengurangan ketergantungan terhadap minyak bumi dengan meningkatkan diversifikasi penggunaan energi. Ini bisa dilakukan khususnya dengan meningkatkan penggunaan energi bersih dan terbarukan seperti matahari, angin, air, panas bumi, arus laut, dan lain-lain.

Langkah lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan efisiensi penggunaan minyak bumi.

Sebagai informasi, tingkat ketergantungan Amerika Serikat terhadap minyak bumi juga masih tinggi, meski diversifikasi energi di sana sudah meluas.

Kelompok pencinta lingkungan hidup di sana mendorong pemerintah AS untuk mengurangi konsumsi minyak hingga 2,5 juta barel per hari pada 2030 — atau setengah jumlah minyak yang diimpor AS dari Teluk Persia tahun lalu. Mereka juga mendesak produsen otomotif untuk membuat mobil dengan konsumsi bensin 1 liter untuk 25 km.

Langkah-langkah efisiensi penggunaan minyak bumi semacam ini juga perlu dilakukan Indonesia — salah satunya dengan mengatasi masalah kemacetan yang menyerang kota-kota besar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s